Dari Promasan ke Puncak Ungaran

Puncak Ungaran
  Foto yang cukup lama usianya. Jadi ingat dulu, 2 tahun yang lalu. Tepatnya saat 16 Agustus 2009 foto diatas diambil. Kala itu saya bersama teman merayakan hari libur kemerdekaan dengan pergi ke lereng Gunung Ungaran, Kab. Semarang. Ceritanya
  Promasan, itulah desa terakhir dalam rute pendakian puncak Ungaran melalui kebun teh Medini. Desa pelosok di lereng Gunung Ungaran. Desa yang indah di tengah hamparan kebun teh yang luas dan hijau. Jika mendaki Gunung Ungaran melalui Kab. Kendal biasanya pemberhentian terakhir mobil yang mengangkut pendaki adalah pabrik teh di Desa Medini. Namanya apa saya kurang tahu. Nah, baru setelah itu berjalan kaki entah berapa kilometer untuk sampai ke Desa Promasan. Pokoknya berjalan kaki 1-2 jam, itu yang pernah saya lakukan sebelumnya. Memang sebelumnya saya pernah mendaki sampai Promasan dengan jalan kaki pada tahun 2006.
  Umumnya mendaki gunung adalah dengan jalan kaki. Tetapi kali ini kami mencoba sensasi baru. Mendaki gunung by motor. Waoww, mengendarai sepeda motor sampai ke Promasan? Terdengar menyenangkan, tidak perlu capek berjalan kaki. Kedengarannya memang begitu, coba simak lagi kelanjutan ceritanya.
Dari Desa Medini menuju Desa Promasan sebenarnya memang ada jalan yang cukup lebar untuk dilalui sebuah mobil. Sengaja dibuat untuk dilalui truk pengangkut teh. Maka dari itu kami coba lalui jalan itu dengan sepeda motor. Lalu apa sensasi yang didapat?
Gilaaaa, medan nya mengerikan. Beberapa kali motor yang saya tunggangi hampir terperosok. Apalagi saat mendaki keadaan sudah gelap. Habis Maghrib kami baru start dari Medini. “Kapok, nggak lagi-lagi kayak gitu”. Mending jalan kaki saja. Meski bisa berjalan namun cukup sulit dilalui bagi sepeda motor. Jalan berbatu nan licin plus elevasi yang cukup curam. Tapi akhirnya tiba di Desa Promasan dengan selamat, Alhamdulillah. Cukup ramai juga disana. Meski keadaannya agak gelap, maklum PLN belum sampai sana. Namun para pendaki tampak menikmati malamnya di Promasan. Memang itulah khasnya muncak.
  Pagi hari lebih menyenangkan. Dingin udara pagi yang menusuk tulang memaksa untuk segera beraktifitas. Melihat matahari terbit tentunya. Mendaki bukit untuk mencari sudut yang tepat, namun tak kunjung ketemu. Hingga akhirnya sampai di Gua Jepang. Sebuah gua yang katanya pernah menjadi tempat persembunyian tentara Jepang saat Perang Dunia II. Dari situ tampak keseluruhan Desa Promasan.
Promasan dari kejauhan Tepat berada di kaki Ungaran. Dikelilingi bukit dengan hamparan teh yang menghijau. Subhanallah. Betapa indah alam ciptaan Mu, Ya Allah
Jadi kangen ke Promasan lagi. Dingin-dingin asyik gitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s