Malam Mingguan dengan Macet Jakarta

image
Kira-kira seperti apa ya suasana malam minggu di Jakarta? Kalau melihat di layar kaca sepertinya menyenangkan. Yang ada di benak kita pasti hingar-bingar anak muda Metropolitan dan juga gemerlap warna-warni lampu kota yang menunjukkan betapa glamornya ibukota Indonesia itu. Terlihat menyenangkan ya? Tapi apa benar begitu?

Malam Minggu tadi Wong Ndeso ini dan seorang kawan coba membuktikan kebenaran tersebut. Dengan cara apa? Saya coba pakai mode duo night riding(kira-kira itu istilahnya, ngarang). Berkendara malam berboncengan satu motor mengitari sebagian kecil jalanan Jakarta.

Memulai dari jalan Yos Sudarso kami menemukan kepadatan lalu lintas khas jalan besar. Uh, begitu banyaknya mobil dan sepeda motor disini. Sebenarnya tak terlalu terkejut, sudah hampir terbiasa. Ternyata sama dengan kondisi pada siang hari.

Memasuki kawasan Kelapa Gading kondisi sekitar sedikit berbeda. Suasana glamor terlihat begitu nyata disini. Ini lah sisi gemerlap ibukota yang sering nongol di layar kaca. Meskipun ramainya jalan raya tak jauh beda dengan Yos Sudarso. Tapi terangnya lampu gedung-gedung dan mall mampu menutupi peliknya masalah jalan raya.

Keluar dari Kelapa Gading suasana sekitar sudah berbeda jauh. Begitu kontrasnya situasi Kelapa Gading dengan jalan raya Pulo Gadung. Seolah tak kebagian listrik PLN, menerangan jalan hanya remang-remang terang ala kadarnya. Atau sebenarnya terang, hanya saja bangunan di pinggir jalan tidak mendukung penerangan jalan raya. Sampai terminal Pulo Gadung juga, cukup lah. Putar balik kembali ke titik start. Namun dengan rute yang sedikit berbeda. Kali ini lewat pinggiran Kelapa Gading.

Cepat jalan, tibalah kami di sebuah perempatan jalan raya(kalau tidak salah biasa disebut Perempatan Bawah Toll Cempaka Mas). Oh, tidak. Macet macet macet, parah. Penutupan jalan dan pengalihan jalur akibat kebakaran di kawasan sekitar Pulo Mas menyebabkan lalu lintas menjadi semrawut. Dampaknya macet parah. Padahal sudah ada lampu lalu lintas di perempatan itu. Namun pengguna jalan raya saling serobot tidak mematuhi rambu lampu Merah dan Hijau. Bunyi klakson tanda emosi pengendara semakin menambah rumitnya macet.

“Sudah lah. Kita menyingkir saja.”

Buru-buru menghindar dari kemacetan sebelum ikut terbawa suasana keruh jalanan macet.

Itu lah pembuktian yang coba kami lakukan. Semua yang dibayangkan tidak benar juga tidak salah sepenuhnya. Malam Minggu pun masih bisa dijumpai macet. Begitu lah Jakarta. Tak seperti kelihatannya. Di balik keindahannya ia menyimpan kemacetan yang tidak bisa ditutup-tutupi.

Jakarta, Jakarta, ibukota Indonesia

Sabtu malam, cerita dari jalanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s