Mabuk-Mabukan ala Bir Pletok

Bakul Bir Pletok Jangan salah sangka dulu sama judulnya. Baca dulu cerita Bir Pletok beriku ini.
Bangun pagi-pagi rasanya kok dingin ya. Jadi pengen yang anget-anget. Bandrek, wedang jahe, sekuteng, wedang ronde dan bir pletok. Nah, yang terakhir disebut mengingatkan saya tentang sebuah cerita beberapa minggu yang lalu. Ceritanya berburu Bir Pletok. Begini. Dua tahun lebih tinggal di Jakarta saya belum berhasil menemukan kuliner khas warga asli Jakarta, Betawi. Tepatnya minuman yang dinamai oleh orang Betawi dengan Bir Pletok. Cukup lama saya mendengar desas-desus(bahasanya kayak infotaiment aja) peredaran minuman tersebut di kalangan masyarakat Betawi. Kabarnya minuman ini bisa menghangatkan tubuh. Maka ketika beranjak di Jakarta saya berusaha mencari tahu. Namun belum juga menemukannya hingga 2 tahun lebih sedikit. Suatu hari.

Di suatu sore yang cerah, entah kenapa saya menceritakan keinginan mencari Bir Pletok kepada seorang sahabat. Sontak dia pun bertanya, apa itu Bir Pletok? Kedengarannya memabukkan. Oo tidak bisa, beer atau bir itu hanya nama saja. Walau ada embel-embel nama bir tetapi bir pletok sama sekali tidak mabukkan. Begitu ya! Dengan rasa penasaran dia terus mengorek informasi dari ku.
Kebetulan saat itu kami berencana pergi ke Kota Tua Batavia untuk sekadar jalan-jalan. Itu lho, tempat bangunan-bangunan tua peninggalan VOC. Saya belum pernah cerita ya? Oiya, belum di posting. Berarti berikutnya cerita itu. Back to topic. Singkat cerita kami pun sampai di Kota Tua saat hari mulai gelap. Malam itu agak sedikit lain. Di pelataran Musium Fatahillah ada acara semacam pasar malam. Ramainya minta macet. Ketika berputar-putar keliling Taman Fatahillah yang begitu ramai secara tak sengaja saya menemukan lapak seorang pedagang yang menarik perhatian. Noh, gambaran pedagang tersebut seperti foto di atas. Eits, pedagangnya bukan yang pakai jaket hijau. Itu ma sahabat saya yang minta di foto. Pedagangnya yang dibelakang pakai peci itu. Ketertarikan saya beralasan. Benar saja, si bapak ternyata menjual Bir Pletok juga selain dagangan lainnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak disengaja yang dicari selama ini ketemu disini. Langsung saja tanya-tanya sama si Bapak. Satu botol Bir Pletok ia jual seharga 20 ribu rupiah. Hmmm, beli ah untuk mengobati rasa penasaran. Sembari menikmati menikmati segelas Es Selendang Mayang kami nongkrong sebentar. Puas, kami pun cabut pergi. Sebotol Bir Pletok untuk mengobati rasa penasaran selama 2 tahun.
Bagaimana ya rasa Bir Pletok itu? Yang jelas tidak memabukkan. Kalau boleh menyamakan rasanya mirip Wedang Uwuh asli Imogiri. Warnanya pun sama, merah-merah gitu. Efek dari Kayu Secang. Campuran jahe dan rempah-rempahnyj sungguh menghangatkan. Bagaimana mengungkapkan rasanya ya. Pokoknya nikmat dan top markotop. Kalau penasaran coba saja sendiri. Tahun ini kan ada Jakarta Fair atau PRJ lagi, barangkali bisa menemukannya di sana. Atau coba buat sendiri saja. Nih ada resep Bir Pletok yang saja temukan di wikibooks. Klik ini untuk melihatnya.
Nikmati selagi hangat atau sajikan dingin.

3 pemikiran pada “Mabuk-Mabukan ala Bir Pletok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s