Menjelajah Gili Trawangan

Pantai Gili Trawangan
Mentari yang malu-malu

Agenda hari kedua yaitu menjelajah Gili Trawangan. Ada tiga cara untuk menjelajahi pulau atau Gili Trawangan. Jalan kaki, bersepeda dan naik Cidomo(yang satu ini nanti saya beri penampakannya seperti apa). Untuk kendaraan bermotor memang tidak ada di pulau ini. Peraturan adat melarang adanya kendaraan bermotor. Hal ini membuat kondisi udara di pulau bebas dari asap knalpot. Dan pagi ini kami akan jalan kaki dulu. Berburu Sunrise di pantai sebelah timur Gili T.

Sunset tak dapat kini sunrise pun tak muncul. Pagi itu langit cukup berawan, menyembunyikan sinar mentari yang ingin menerangi bumi. Sepertinya kami belum beruntung.

Berbeda dengan suasana semalam, pagi ini jalanan masih sepi dari turis asing
ng. Hanya ada penduduk setempat yang sudah memulai aktifitasnya dan beberapa turis lokal seperti kami. Mungkin Mas-mas dan Mbak-mbak bule masih terlelap setelah semalam suntuk ber-dugem ria.

Jalan-jaln di Pantai Gili Trawangan
Menyisir Pantai

Lepas menanti sunrise yang tak kunjung menampakkan diri, kami putuskan untuk menyusuri pantai. Dan tentu saja sesi pemotretan. Serta guling-guling di pasir putih pantai.

Wisatawan menyeberang
Perahu Wisatawan

Beberapa perahu pembawa wisatawan tampak sudah mulai berdatangan. Pilihan wisatawan yang datang pagi-pagi ke Gili T sangatlah tepat. Yaitu ketika laut belum pasang dan ombak juga tak terlalu tinggi. Tak seperti kedatangan kami kemarin. Ini tips yang perlu diingat kalau mau ke Gili Trawangan lagi.

Hari semakin terang. Saatnya menunaikan kewajiban mengisi perut. Sarapan ekonomis namun tak mengabaikan sisi nikmat. Penduduk setempat yang membuka warung semacam warteg menjual makanan dengan harga murah. Kalau mau membeli makan murah di Gili Trawangan ya disini, warung makan di perkampungan penduduk setempat. Dengan uang sepuluh ribuan kita bisa mendapatkan sebungkus nasi yang cukup lengkap. Nasi orek, mie, sayuran, irisan daging ayam dan telur juga. Yang unik dari ibu-ibu penjual nasi ini adalah cara membungkus nasi nya. Begini penampakannya.

Bungkus Nasi yang Unik
Nasi Bungkus Khas Gili Trawangan

Kalau biasanya saya beli nasi bungkus di warteg atau nasi padang, pasti diikat dengan karet. Namun nasi bungkus yang ini tidak menggunakan karet untuk mengikat bungkusan. Coba gimana. Hah, bayangin sendiri ya dari pic diatas.

Cek out homestay. Rata-rata homestay disini mengharuskan penginap cek out antara pukul 10.00-12.00 WITA kalau tidak mau menginap lebih lanjut. Sedangkan untuk cek in antara 12.00-sore WITA. Namun ada juga yang bisa lebih awal. Karena memang berniat menginap semalam saja, kami segera mengemasi barang dan cek out pukul 10.30 WITA, bukan WIB.

Penjelajahan belum usai. Meski dibilang tak terlalu luas, namun mengelilingi pulau dengan jalan kaki cukup memakan waktu juga. Alternatifnya ya bersepeda atau naik Cidomo. Cidomo merupakan singkatan dari Cikar, Dokar, Montor(mobil). Kendaraan khas Lombok. Dan ini merupakan angkutan barang satu-satunya di Gili. Begini tampangnya. Lebih jelasnya silakan tanya Om Wiki dimari…

Cidomo yang Ngetem
Cidomo

Namun kami lebih memilih bersepeda, agar lebih bebas blusukan keluar masuk gang. Harga sewa sepeda disini rata-rata Rp 20.000 per jam atau Rp 70.000 per hari. Mulailah berkeliling pulau by cycle. Kring-kring, excuse me sepeda saya mau lewat. Niatnya mau mengelilingi pulau, tapi ternyata pas sampai ujung jalannya nggak nyambung. Jalan buntu, yach puter balik dah.

Makin siang bibir pantai semakin ramai. Panas-panas bukannya berteduh malah telentang di pasir pantai. Apa nggak takut kulitnya gosong? Memang itu tujuannya. Yap, merekalah Mas-mas dan Mbak-mbak wisatawan mancanegera yang sedang menjemur badan di bawah terik matahari. Katanya biar kulit jadi kecokelatan eksotis gitu. Ini di pantai sebelah timur bagian utara.

Thanks Sis
Trio Macan
Panas-panasan
Berjemur

Selain keliling pulau dan berjemur, aktifitas yang bisa dilakukan yaitu snorkeling dan diving. Banyak yang menyediakan paket snorkeling dan diving di beberapa spot di 3 Gili. Untuk paket snorkeling kisaran harga paket per orangnya Rp 150.000. Berangkat pukul 10.00 sampai sore untuk snorkeling dan mengunjungi Gili Meno dan Gili Air. Sayang waktu kami cuma sebentar, jadi tak bisa ikut paket snorkeling tersebut. Main air di pinggir aja cukup
menghibur. Sambil memandangi Mbak-Mbak bule juga tentunya. Whahaha…

Siang menjelang, kami harus menyudahi kunjungan di Gili Trawangan. Saatnya kembali lagi ke Pulau Lombok.

Beberapa pelajaran dari Gili Trawangan

  • Tak memperbolehkan adanya kendaraan bermotor menjadikan udara di Gili Trawangan bebas polusi. Kearifan lokal demi kelestarian alam.
  • Meski dekat dengan dunia gemerlap(dugem), namun warga setempat tetap pada keyakinannya. Pulau kecil ini memiliki dua masjid. Dan anak-anak yang rajin mengaji setelah salat Maghrib berjamaah di masjid.

Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat
31 Januari – 1 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s