Yang Penting Sampai di Pulau Bali

Swarna Cakra
Kapal Feri Penyeberangan Lembar-Padangbai

Masih melanjutkan kisah perjalanan Lombok Bali yang ceritanya sepotong demi sepotong sampai yang nungguin update bosan(emang ada yang nunggu?). Kali ini seri Pulau Dewata. Siapa yang tidak tahu Pulau Bali?

Saya rasa semua orang yang entusias atau minimal pernah liburan pastilah tahu Bali. Di mata wisatawan mancanegara, bahkan nama Bali lebih dikenal daripada Indonesia(kata orang sih) yang notabenenya merupakan negara tempat berdirinya Pulau Bali. Rasanya tidak adil bila wisman saja sudah pernah bahkan sering datang ke Bali namun saya yang satu negara dengan Bali belum sekalipun mengunjunginya. Yupz, dari judulnya sudah bisa ditebak bagaimana alur kisah ini. Tapi lanjutkan membaca tidak ada ruginya. Biar saya girang bukan kepalang cerita perjalanan saya dan gerombolan ada yang membaca.

Awalnya, Pulau Bali menjadi tujuan utama liburan dalam rangka apresiasi empat tahun nguli. Namun karena Bali sudah terlalu mainstream, seorang kawan mengusulkan untuk melipir sedikit dari Bali. Alhasil, Pulau Lombok beserta Gili-Gili disana menjadi destinasi yang cukup mungkin dan menarik. Akan tetapi…rasa penasaran akan Pulau tujuan wisata nomor satu di Indonesia(baca:Bali) maka kami tetap menyisihkan waktu untuk ke Bali. Begitulah rencana awal yang kami berlima sepakati. Menapaki Pulau Lombok dan Pulau Bali dalam tempo 3 hari 2 ½ malam.

Dua hari sudah terlewati di Pulau Lombok, menyisakan satu hari lagi jalan-jalan singkat ini.

Cerita sebelumnya…Sejenak di Jembatan Biru Malimbu, Party di Gili Trawangan, dan Explore Gili Trawangan

Malam terakhir di Lombok kami bertamu ke rumah Pak Gusti. Beliau aslinya orang Bali, namun dapat tugas kerja di Lombok. Nuansa Bali kental terasa saat bertamu di rumah beliau. Istri dan anak-anak beliau ramah menyambut kami. Pokok e intinya kami beserta keluarga Pak Gusti beramah-tamah sampai tengah malam. Mereka benar-benar mengerti bagaimana cara memuliakan tamu. Sampai-sampai teman saya Si Komandan yang berbadan paling besar tanpa segan-segan numpang tidur di sofa. Katanya ngantuk berat plus capek. Tuan rumah hanya tersenyum melihat kelakuan temanku yang satu itu.

Tengah malam kami diantar Pak Gusti ke pelabuhan Lembar. Lagi-lagi kami merepotkan mereka. Terima kasih pak boss. Pelabuhan Lembar merupakan pelabuhan penyeberangan feri dari Lombok ke Bali dan sebaliknya. Harga tiket kapal feri penyeberangan Lombok-Bali saat itu adalah Rp 40.000. Hati-hati membeli tiket di pelabuhan ini. Kadang ada calo tiket disini. Setidaknya itu yang kami alami. Seseorang yang sepertinya ingin membantu, menawarkan tiket kapal feri kepada kami. Di lihat dari penampilannya ia bukanlah petugas pelabuhan. Hmmm, calo tiket. Harganya memang sama dengan yang di loket resmi. Namun saat pemeriksaan tiket sebelum masuk ke kapal,kami sempat mengalami masalah. Petugas yang berjaga menanyai keabsahan tiket yang kami bawa. “Ini tiket beli dimana? Bukan di loket ya?” Si Calo berkelit dengan berpura-pura sebagai pengantar “Ini beli di loket Pak, asli”. Untunglah masalah ini tak berlanjut makin ribet dan kami pun diperbolehkan masuk kapal yang akan segera berangkat itu. Saya masih berpikir, tiket yang kami gunakan itu asli atau tidak, resmi kah atau… Sudah lah, yang penting kami bisa segera menyeberang ke Bali.

Untuk pertama kalinya saya naik kapal feri. Whhaha….rekor baru man. Lantai bawah kapal digunakan untuk menampung mobil dan sepeda motor. Sedangkan para penumpang di lantai atasnya. Lumayan juga nih ruang penumpannya, AC nya pas. Para penumpang sebelum kami sudah menempatkan diri di bangku dan kursi penumpang yang berjejer rapi. Tampak sebagian sudah terlelap dengan kenyamanannya masing-masing. Si Komandan yang sebelum berangkat ke pelabuhan memang sudah mengantuk mulai lirik kanan kiri. Mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk mengistirahatkan badan. Tawaran menyewa kasur lantai pun langsung diiyakan tanpa pikir panjang. Kalau mata sudah sepet, pikiran pun ikut mampet. Yo wis lah, sewa kasur wae, toh memang perlu. Hari sudah sangat larut, dimana-mana gelap kecuali di bawah lampu. Mau aktifitas apa lagi coba. Lihat laut juga pasti gelap gelap gelap gulita. Berarti memang sudah saatnya tiduuur.

Malam kali ini sangat spesial karena kami menginap di hotel apung bernama Swarna Cakra. Fasilitas kamar AC, kasur lantai, plus TV. Lokasi langsung menghadap ke laut. Harga sewa murah, hanya Rp 70.000/malam per orang(sewa kasur lantai Rp 35.000 dan tiket kapal Rp 40.000). Kamar model asrama(satu ruangan untuk ramai-ramai). Fasilitas lain, kamar mandi luar dan Mushola. Aturan khusus, Dilarang merokok di kamar(disediakan ruang khusus merokok). Mungkin demikian kalau boleh menggambarkan kondisi saat itu. Sepertinya sangat amat sederhana dan apa adanya. Namun bagi kami tak masalah. Asal bisa meluruskan punggung dan membaringkan badan itu sudah memenuhi syarat tempat tidur. Nyatanya…begitu meletakkan kepala di bantal(sebenarnya tas yang difungsikan jadi bantal), kami langsung tidur pulas. Saat sadar, kapal sudah berlabuh di pelabuhan Padangbai, Bali. Lama waktu menyeberang Lombok-Bali adalah 6 jam. Hmm, berarti kami sudah tidur selama itu, tapi rasanya baru sekejap memejamkan mata ini. Dan akhirnya….

Sampailah di Pulau Bali.

Sambutan yang hangat. Akhirnya dapat juga momen matahari terbit. Meski di tempat yang tak terduga.

Sunrise on Padangbai
Matahari terbit di Pelabuhan Padangbai

Tak lama kemudian, teman dari teman saya yang asli orang Bali datang menjemut . Sebelumnya terima kasih sudah bersedia repot-repot menyambut dan menjemput kami. “Mau diantar jalan-jalan kemana?”, tanya bli Eka. Hmmm, kemana yaa. Duh kemana nih, kok jadi bingung begini. Whahaha, memang sih, saya tidak menyiapkan itinerary serta destinasi apa saja yang ingin dikunjungi di Bali. Sebenarnya sesaat setelah turun dari kapal, saya sudah bisa menyatakan “Mission Complete”. Because tujuan saya adalah “Yang Penting Sampai di Pulau Bali”. Jadi begitu kaki ini menginjak tanah Bali, berarti target telah tercapai.

Wes, pokoknya muter-muter Bali dalam sehari saja. Di mulai dari yang paling dekat dari pelabuhan Padangbai.

Dan inilah hasil keliling Bali dalam sehari. Tempat mana saja yang sempat kami kunjungi.

Patung patung patung. Di pertigaan, perempatan, di depan gang bahkan di depan rumah. Dimana-mana ada patung.

Dewa Perang Indra
Patung Dewa Perang Indra

Monumen Puputan Klungkung
Monumen Puputan Klungkung

Kebo Iwa
Patung Kebo Iwa

Tak banyak info yang saya dapat ambil dari patung-patung yang saya temui. Ya, karena sambil lalu saja, memotretnya pun dari dalam mobil yang sedang berjalan. Stelah googling dapat juga sedikit cerita mengenai foto-foto diatas.

Tugu pada foto diatas dinamakan Monumen Puputan Klungkung. Merupakan simbol perjuangan rakyat dan kerajaan Klungkung melawan penjajah. Berlokasi di tengah-tengah kota Semarapura ibukota Klungkung, tepatnya di jalan Untung Surapati.
Kalau patung seseorang yang sedang memanah itu adalah Indra. Dewa perang dan yang teragung diantara semua petarung, penguasa petir dan badai, terletak di desa Tegal Tugu, di timur Gianyar.
Sedangkan patung di bawahnya merupakan patung Patih Kebo Iwa. Salah satu tokoh sakti Bali zaman kerajaan. Menurut cerita bahkan Mahapatih Gajahmada dari Majapahit pun segan terhadapnya. Dan mengakui kalau Majapahit akan kesulitan menaklukkan Bali jika Patih Kebo Iwa memimpin perang. Yang menarik dari patung ini adalah tulisan di bawah patung, “Jiwa dan Raga Ku Korbankan demi Persatuan dan Kesatuan Nusantara”. Menandakan bahwa beliau rela mati demi bersatunya Nusantara yang kala itu masih berdiri sendiri-sendiri. Lanjutan ceritanya silakan googling sendiri.

Dari sebuah patung dan tugu yang asal foto, saya jadi belajar secuil sejarah Bali. Sebenarnya masih ada beberapa foto yang tak teridentifikasi namanya. Namanya juga sambil jalan jepret sana-sini. Pemberhentian pertama yaitu, Pasar Seni Sukawati. Kalau menyebut kata pasar, pasti yang terpikirkan belanja, shopping shopping. Yupz, cari baju atau apapun yang menarik dibawa pulang. Pagi itu suasana pasar masih sepi pengunjung, mungkin karena masih pagi. Wah, lumayan dapat beberapa baju dengan harga murah. Kata ibu-ibu yang dagang, “buat penglaris, saya kasih murah saja”. Ternyata kami memang datang kepagian. Jadilah kami pembeli awal hari itu.

belanja di Pasar Seni Sukawati
shopping at Pasar Seni Sukawati

Selesai belanja pakaianm selanjutnya belanja alas perut, sarapan. Menunya, Ayam Betutu khas Bali di warung makan dekat pasar. Pilih warung asal saja, yang penting bertanda halal. Dan rasa makanan yang menyentuh lidah saya lagsung mendapat penilaian, uenak. Daging ayamnya empung, bumbunya juga sip. Tapi masih kalah enak dengan ayam olahan emak saya, hah.

Selanjutnya kemana lagi? Hmmmm…Bedugul. Mau ngapain kesana? Mau cari uang rupiah pecahan 50 ribu.??? Nanti juga tahu.

Pura 50K, Danau Beratan
Pura 50K, Danau Beratan

Noh, familiar dengan foto di atas. Coba deh lihat uang rupiah pecahan 50 ribu. Gambar pura dan danaunya mirip dengan foto di atas tidak? Yupz, itulah landmark pura di atas danau yang dijadikan gambar pada uang rupiah pecahan 50.000. Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul. Daya Tarik Wisata Ulun Danu Beratan ini terletak di Desa Candi Kuning, Kecamatan Baturit, Kabupaten Tabanan. Harga tiket objek wisata ini Rp 10.000 untuk turis lokal, turis asing mungkin lebih mahal sedikit.

Beberapa perahu bersandar di tepi Danau Beratan
Sampan bersandar di tepi Danau Beratan

Belum puas melihat-lihat, eh turun hujan. Mau bagaimana lagi, saat itu memang musim penghujan. Nikmati sajalah hujannya, berteduh bersama turis lainnya. Duh, bicara apa mereka. Rombongan wisatawan asing bicara dengan bahasanya masing-masing. Mandarin, Korea, Jepang, Inggris. Saya yang tak mengerti cuma melongo. “Wong-wong kae ngomong opo? Mboh, aku yo ora ngerti”. Obrolan kami dalam bahasa Jawa ikut meramaikan obrolan antar bangsa itu. Hujan tak kunjung reda, udara juga semakin dingin. Kami pun menyerah menunggu cerah. Terjang hujan untuk kembali pulang.

Kedinginan di dataran tinggi, kini saatnya turun gunung. Kita ke salah satu pantai di Bali yang wajib dikunjungi, Pantai Kuta. Danau Beratan ke Pantai Kuta agak sangat jauh, nah loh. Katanya sih sekitar 70 Km. Sore hari kami sampai di Kuta. Pantai ini mengahadap ke barat, ini artinya sunset poin, Huhuui. Lagi lagi mendung menghalangi momen kembalinya matahari ke peraduan.

Mendung di Pantai Kuta, Bali
Mendung di Pantai Kuta, Bali

Senja telah usai, berarti usai sudah perjalanan sehari keliling Bali kami. Tak lupa kami membeli beberapa buah tangan. Bandara Ngurah Rai menjadi tujuan terakhir hari itu. Terima kasih bli Eka, yang sudah menyempatkan waktu dan bersedia kami repotkan.

Keliling Bali dalam sehari ternyata baru bisa menjangkau secuil keelokan Pulau Seribu Pura ini. Bali kami akan kemBali lagi. Sampai jumpa.
Selesai sudah cerita jalan-jalan edisi Lombok Bali ini. Oiya, kulinernya belum sempat di bahas. Beberapa makanan yang kami nikmati selama di Lombok dan Bali sepertinya juga perlu saya arsipkan. Nyum nyum…next

Bali, 2 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s