Catatan Akhir Tahun tentang Keluarga, Rezeki, dan Syukur

liburan keluarga warga ibukota
Liburan keluarga warga ibukota, Monas menjadi pilihan yang menarik

Tak terasa 2014 segera berlalu. Sebentar lagi kita bisa mengucapkan selamat datang 2015. Hingar bingar perayaan menyambut pergantian tahun sudah terasa dimana-mana. Hah, seperti tahun-tahun sebelumnya, orang-orang begitu antusias menyambut terlewatkannya tahun ini. Memang seharusnya kita senang masih bisa diberi umur panjang sampai penghujung tahun. Bersyukur selalu diberi nikmat tanpa herus meminta, sehat. Tapi tentu saja bersyukur tidak harus dengan pesta. Pesta meriah menghabiskan uang melimpah. Oke, bersyukur karena tahun ini mendapatkan rezeki harta yang melimpah. Namun apa tidak terlalu sayang kalau rezeki melimpah itu hanya ditumpah? Dibuang sia-sia demi sebuah kemeriahan. Di luar sana masih banyak yang tahun ini rezeki nya masih pas-pasan, bahkan kekurangan. Liburan untuk menyegarkan badan dan pikiran. Iya, saya pun demikian. Saya juga butuh liburan setelah setahun selalu bergulat dengan kepenatan pekerjaan dan kesibukan. Liburan tidak harus boros. Liburan tidak harus menghambur-hamburkan uang. Hiburan tidak harus menghabiskan uang. Bingung bagaimana cara menghabiskan uang atau harta yang dirasa lebih? Bersedekah lah, sodaqoh, beramal. Berbagi lah pada sesama dan lingkungan.

Hari ini saya belajar tentang arti rezeki harta. Selama ini dalam hati(tercurah lewat tulisan ini) saya masih saja mengeluh mengenai pekerjaan yang saya lakoni. Padahal secara penghasilan, alhamdulillah bisa membiayai hidup saya selama di perantauan plus masih bisa menabung. Hingga masih bisa mengelola blog ini. Meski layanan dari WordPress diberikan secara cuma-cuma, namun untuk posting artikel(tulisan dan sebagian besar gambar/foto) tetap membutuhkan koneksi internet. Ya, walaupun kadang dapat akses gratis sih. Hehe.

Terkadang saya masih mengeluh dengan pekerjaan yang saya jalani. Berharap mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Lebih baik secara tata laksana pekerjaan dan juga penghasilan. Ingin yang lebih baik boleh lah. Saya sering melihat ke atas. Banyak orang berada di atas saya, mereka bisa tertawa bahagia. Membuat saya iri dan ingin naik ke atas juga.

Hari ini pula saya disadarkan kembali. Diatas saya orang-orang terlihat bahagia. Namun ternyata di bawah saya masih banyak orang-orang yang bersusah payah mencapai lantai dimana saya berada. Saat saya memandang ke atas, saya melihat orang-orang di atas saya begitu bahagia. Mungkin pikiran saya ini sama dengan mereka yang masih berdiri satu lantai di bawah saya. Saya terlihat bahagia di mata mereka. Meski saya merasa belum bahagia. Ya, itu karena saya selalu melihat ke atas. Ini mengingatkan saya dengan kalimat bijak dalam bahasa Jawa “Menungso urip iku sawang dinawang”. Dalam bahasa Indonesia “Manusia hidup itu saling melihat”. Maknanya, saya melihat orang lain bagitu bahagia, lebih bahagia dari saya. Namun bagi orang itu mungkin saya lebih bahagia dari dia, dan dia pun tak sebahagia yang orang lain lihat. Yang terlihat dari luar belum tentu sama dengan yang di dalam.

Pelajaran untuk saya. Berkeinginan untuk mencapai yang lebih baik itu perlu. Hidup harus selalu berubah ke arah yang lebih baik. Namun jangan lupa, posisi sekarang bisa jadi masih lebih baik dari orang lain. Jangan selalu melihat ke atas, kalau ada Burung berak bisa kena muka, hah. Lihat pula ke bawah. Di atas langit masih ada langit yang tak berhujung. Lantai dasar pun masih ada lantai yang lebih bawah, Lower Ground dan Basement dan….apalagi ya, nanti saya tanyakan petugas di mall dulu.

Seseorang yang terlihat bahagia belum tentu dia benar-benar bahagia. Mungkin dia menyembunyikan masalahnya dengan senyuman dan tampang bahagia agar orang lain juga merasa bahagia juga. Hmm, betul juga. Ketika orang lain melihat diri kita senang penuh senyum ceria, bukankah orang lain akan ikut senang. Lain bila saat kita bertemu orang lain dengan wajah cemberut, orang akan merasa tidak nyaman. Kata pak Kyai, “Senyum itu ibadah”. Iya, betul betul betul.

Keluarga

Sejak kita dilahirkan, ibu yang melahirkan kita dan juga orang-orang yang mempunyai ikatan darah serta hubungan dengan ibu adalah keluarga kita. Alhamdulillah, sejak saya lahir hingga saat ini saya memiliki keluarga inti(ayah, ibu dan saudara kandung) yang utuh. Beberapa orang mungkin tidak seberuntung saya. Ada yang sesaat sebelum lahir sudah menjadi Yatim. Saat lahir menjadi Piatu dan bahkan begitu lahir menjadi anak Yatim Piatu.

ibu-ibu sedang membuat bubur abang putih untuk ritul Tedhak Siti
ibu-ibu sedang membuat bubur abang putih untuk upacara Tedhak Siti, yaitu upacara adat Jawa untuk bayi yang akan mulai menapakkan kaki di tanah

Ayah dan Ibu merawat saya dengan baik dan penuh kasih sayang hingga sedewasa ini. Saya tidak tahu bagaimana susahnya mereka merawat diri saya ini ketika masih bayi. Dewasa ini, dengan melihat susahnya orang lain merawat bayi mereka, terbayang bagaimana susahnya orang tua merawat saya ketika bayi. Terkenang memori dikala saya kecil. Saya yang bandel, cengeng, yang egois(kalau sudah mau sesuatu harus dituruti tanpa memikirkan kondisi orang tua). Saya yang selalu membuat khawatir saat bermain tidak pulang-pulang. Kesabaran mereka merupakan bukti cinta. Kehawatiran mereka akan kondisi sang anak adalah tanda sayang. Rasa cinta dan sayang mereka tercurah dari sejak saya bayi, batita, balita kecil, remaja, hingga saya dewasa. Bahkan setelah saya tinggal sendiri, saat saya pulang ke rumah rasa sayang mereka tidak berkurang sedikit pun. Keinginan orang tua terhadap anaknya tidak aneh-aneh. Asalkan bisa melihat anaknya selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan selalu dilimpahi kebahagiaan, orang tua turut senang. Apalagi bila selalu berbakti kepada mereka, berguna untuk masyarakat, dan bisa menjadi anak yang membanggakan kedua orang tua. Lengkap lah harapan mereka terhadap anaknya. Tidak percuma mereka membesarkan dan mendidik anak-anak mereka dengan susah payah. Sebagai anak, tentu saja saya tak akan pernah melupakan segala hal yang telah orang tua berikan kepada saya. Meski sudah bisa mandiri, saya tetap ah anak mereka. Setiap ada libur, saya harus bisa menyempatkan waktu pulang kampung mengunjungi mereka. Walau hasrat untuk melanglang buana menjelajah seluruh negeri begitu menggelora. Setidaknya saya harus bisa menyempatkan diri pulang, meski hanya menengok saja.

Umur siapa yang tahu. Hari ini sehat, besok belum tentu masih bisa bernafas. Hari ini masih bisa bertutur sapa, siapa yang tahu besok sudah tak bisa berjumpa. Selagi ada waktu, sempatkan lah untuk saling menyapa. Bersilaturahim satu sama lain. Keluarga, saudara, sanak famili, kerabat, tetangga, teman, kawan, sahabat, kunjungi lah mereka. Jangan sampai tali silaturahim yang pernah terjalin putus begitu saja. Bukan kah menyambung silaturahim itu lebih baik daripada sebaliknya. Juga, seperti yang sering dituturkan oleh almarhum kakek buyut saya, “Silaturahim itu bisa memperpanjang usia”. Usia bukan hanya sekadar umur yang banyak, melainkan usia hidup yang bermanfaat.

Bahan instrospeksi bagi diri saya sendiri dan semoga bisa menginspirasi. Boleh lah sesekali saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2015 Semoga di tahun yang baru ini akan ada hal-hal baru yang membawa kebaikan. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s