Negeri Kentang Bernama Dieng

Tanaman Kentang di Dataran Tinggi Dieng
Tanaman Kentang di Dataran Tinggi Dieng

Dieng, sebuah kawasan dataran tinggi yang terletak di jantung Pulau Jawa(Jawa Tengah). Daerah ini meliputi wilayah dua kabupaten, yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Keindahan panorama alam dan keunikan budaya serta sejarahnya membuat nama Dieng semakin dikenal para pelancong. Setelah berkunjung, berbagai julukan pun mereka berikan untuk berkomentar dan menggambarkan betapa luar biasanya dataran tinggi Dieng.

Bumi Khayangan atau Tempat Tinggal Para Dewa

Salah satu julukan yang tercipta juga dari nama Dieng itu sendiri.Dalam bahasa Kawi, nama dieng berasal dari dua kata, yaitu “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna “Dewa”. Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Daerah ini memang terletak di tempat tinggi, pegunungan(Wikipedia). Seperti yang diceritakan dalam banyak mitologi, bahwa Dewa tinggal di daerah tinggi, di langit, di atas awan.

Negeri di Atas Awan

Ketinggian rata-rata dataran tinggi Dieng adalah 2000 mdpl. Bahkan salah satu desa di tempat ini, yaitu Desa Sembungan telah menyatakan diri sebagai Desa Tertinggi di Pulau Jawa. Maka tak heran bila untuk melihat awan dari tempat ini kita tak harus menengadah ke atas, melainkan juga bisa dengan menundukkan kepala. Di Dieng awan tak melulu berada di atas kita, tetapi kita juga bisa lebih tinggi dari awan meskipun kaki kita tetap menginjak tanah. Anda akan semakin setuju dengan julukan Negeri di Atas Awan kalau sudah melihat sunrise dari salah satu puncak tertinggi Dieng. Itu kata orang-orang. Sayangnya saya sendiri juga belum pernah melakukannya. Tapi saya tetap setuju dengan julukan tersebut. Bagaimana tidak, kemanapun saya melangkah kabut selalu berada di sekelilingku. Bukankah kabut juga merupakan awan?

Kecantikan Ajaib di Pulau Jawa

Cantik itu relatif. Tapi Dieng memang luar biasa cantik. Apalagi kalau datang di saat yang tepat di momen yang pas. Yaitu saat cuaca cerah dan pada saat ada Dieng Kultur Festival (mudah-mudahan tahun ini bisa hadir ke acara ini).

Negeri Seribu Masjid

Hmmm, sebelum ini setahu saya yang memiliki julukan ini adalah Pulau Lombok. Namun ternyata Dieng juga mempunyai predikat demikian.
Datang ke Dieng, kita tak akan kesulitan mencari bangunan dengan kubah di atasnya. Tetapi lain cerita bila ingin menunaikan salat Jumat di masjid. Mushola dan Masjid hampir tak ada beda, bangunannya sama-sama megah. Seperti yang saya alami, dari jauh saya kira itu masjid, saat sudah dekat ternyata papan namanya bertuliskan Mushola. Bangunan yang tak jauh dari Mushola itu pun ternyata Mushola juga. Dari segi besarnya bangunan, menurut saya mushola itu layak disebut Masjid. Karena bingung, akhirnya kami mengikuti warga setempat yang kami perkirakan akan menunaikan salat Jumat. Hahaha. Maka tak heran kalau ada yang menjuluki Dieng dengan sebutan Negeri Seribu Masjid.

Selain beberapa julukan di atas mungkin masih ada lagi julukan-julukan lain yang tidak saya ketahui. Setiap orang yang berkunjung ke Dieng punya kesan-kesan tersendiri. Kesan itu kemudian melahirkan sebuah julukan guna menggambarkan apa yang dirasakan dan alami.
Kini giliran saya memberi julukan untuk Dieng berdasarkan kesan yang saya rasakan saat melancong kesana.

Negeri Kentang Nan Masyur

Ya, itu lah julukan yang saya berikan untuk Dieng. Siapa saja yang pernah ke Dieng harusnya setuju dengan pernyataan saya ini. Sudah menjadi rahasia umum kalau komoditas pertanian utama kawasan Dieng dan sekitarnya adalah Kentang. Sejatinya Kentang bukan lah tanaman asli petani Dieng. Dikatakan bahwa dahulu(tahun 80-an) tanaman Kentang dibawa ke Dieng oleh para petani dari sekitar Gunung Galunggung yang lahannya hancur akibat letusan gunung itu. Sejak saat itu para petani Dieng beralih dari menanam Jagung dan Tembakau ke tanaman Kentang. Alasannya karena masa tanam Kentang jauh lebih pendek dan nilai ekonomisnya yang lebih tinggi.
Dieng yang merupakan kawasan vulkanik memang memiliki tanah yang subur. Cocok untuk menanam berbagai jenis sayuran termasuk Kentang. Para petani akhirnya beramai-ramai menanam Kentang. Hutan-hutan di perbukitan dibabat guna membuka lahan bercocok tanam Kentang. Dan jadi lah gunung Kentang seperti foto di bawah ini.

Perbukitan yang dipenuhi tanaman Kentang
Perbukitan yang dipenuhi tanaman Kentang
Ladang Kentang
Ladang Kentang

Tanaman Kentang mengisi seluruh permukaan tanah bukit dari bawah hingga puncak bukit. Percaya itu tanaman Kentang? Kalau tidak percaya silakan lihat sendiri on location. Hahaha. Tak hanya satu bukit saja yang di tanami Kentang. Hampir semua bukit ditanami Kentang. Setidaknya itu yang saya lihat di sepanjang jalan dari dan ke Dieng. Sekilas pemandangan bukit penuh tanaman Kentang tampak terlihat bagus. Bak serdadu yang berbaris rapi membentuk sebuah pola teratur. Namun…

Buah Simalakama Dieng Bernama Kentang. Sebuah judul artikel yang saya temukan saat searching mengenai Kentang dari Dieng. Kentang yang mendatangkan banyak keuntungan bagi para petani ternyata juga membawa bencana. Pembabatan hutan untuk lahan pertanian Kentang mengakibatkan tidak adanya tanaman berakar kuat yang mampu menahan air hujan. Sedikit demi sedikit lapisan subur tanah hanyut terbawa air hujan. Kesuburan tanah berkurang, hasil pertanian pun menurun. Belum lagi bahaya longsor sebagai akibat tidak adanya akar pepohonan yang menahan tanah.

Telaga yang Hilang
Saya sempat bertanya kepada pemilik rumah yang kamarnya kami sewa mengenai objek wisata apa saja yang menarik untuk dikunjungi. Ketika sampai pada bab telaga, spontan beliau(petani sekaligus pemilik penginapan) bercerita mengenai telaga yang hilang. Di puncak gunung Pakuwaja ada bekas telaga yang kini sudah mengering. Namun beliau tidak bercerita bagaimana dan kapan telaga itu mengering. Entah itu karena dampak dari penggundulan hutan atau bukan, yang jelas disitu pernah ada sebuah telaga(katanya).
Sebagai orang awam yang tidak tahu apa-apa soal geologi, pertanian maupun sosial ekonomi masyarakat, tak sepantasnya saya berbicara lebih jauh mengenai problematika Kentang Dieng. Tetapi sebagai pelancong yang selalu mencari dan mengagumi bukti keangungan ciptaan-Nya, saya hanya bisa beropini tanpa dasar yang pasti.
Dieng sebagai lahan pertanian maupun sebagai objek wisata tetaplah bagian dari lingkungan dan alam. Sudah sepatutnya kita sebagai Khalifah Fil Ardhi bisa lebih bijak memanfaatkan alam serta menjaganya. Agar kelak kekayaan alam itu bisa dinikmati oleh anak cucu dan keindahaannya bisa dilihat oleh pelancong berikutnya.(farr)

Sepenggal kesan dari Dieng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s