Menembus Kabut Dieng

Sepeda motor menembus tebalnya kabut
Sepeda motor menembus tebalnya kabut

Seolah masih terasa, ketika mendengar kata Dieng, saya langsung membayangkan berada di dalam freezer raksasa. Bagai daging yang disimpan di pendingin agar terjaga keawetannya. Brrrr, dingin. Semangat saya meluap-luap tatkala bisa merencanakan akan ke Dieng, lagi. Yaa, dulu sekali(eh, 5 tahun yang lalu ding, nggak dulu-dulu banget) saya sudah pernah ke Dieng. Tepatnya mampir lewat setelah touring Kendal-Klaten-Jogja. Tapi jangan tanya bukti kalau saya sudah pernah ke Dieng sebelumnya. Kata agan-agan di taman sebelah “no pic hoax”. Men, waktu itu saya tidak punya kamera untuk mengambil barang bukti. Jangan kan kamera pocket atau DSLR, ponsel berkamera saja tak ada(tak punya). Waktu itu smartphone belum sepopuler saat ini(apa hubungannya smartphone dengan Dieng?). Saya pun juga setengah hati mengatakan “saya ikut touring”, karena saya hanya duduk di jok belakang sepeda motor selama perjalanan. Hehe…nebengers
Cukup lah nostalgianya, saatnya kembali ke masa kini.
Ceritanya saya ke Dieng lagi. Libur akhir tahun kemarin cukup panjang, kalau tidak dimanfaatkan untuk kluyuran rasanya sayang. Sedikit memaksakan, mengingat cuaca kemarin hingga kini yang selalu hujan hampir tiada henti. Namun tekat sudah bulat, hanya doa yang menjadi senjata pamungkas melawan cuaca. Semoga Allah SWT berkenan memberikan cuaca cerah ketika saya melancong demi menyaksikan keagungan ciptaan Nya, amin. Dan akhirnya, tralala….sesosok hitam besar bergerombol dalam kawanan yang banyak bak tentara Mondor dalam film The Lord of The Ring siap menerjang langkah kami. Siap meluncurkan anak panahnya yang mampu membasahi tubuh kami. Awan hujan berarak-arakan menyambut langkah awal menuju Dieng. Padahal sebelumnya cuaca di Kendal dan sekitarnya cukup cerah. Apalah daya, layaknya ABG labil, cuaca juga bisa tak menentu. Pagi cerah, tak ada jaminan kalau siang atau sore hari akan jadi ceria.

Sekali lagi, itu tak menyurutkan semangat kami. Lanjut. Secara teori rute yang akan kami tempuh yaitu Kendal-Sukorejo-Parakan(Temanggung)-Wonosobo-Dieng. Jalanan menanjak serta berkelok-kelok menuju Sukorejo dilibas dengan mudah oleh supir kami(teman ding, bukan supir). Warming up sebelum mengaspal di sirkuit Dieng yang terkenal lebih extreme daripada sirkuit Le Mans sekalipun.
Sukorejo terlewati dengan mudah, selanjutnya Kecamatan Parakan, Kab. Temanggung. Hari yang mulai gelap(malam) tak mengubah apapun, sejak berangkat matahari memang sudah tidak menampakkan wajahnya. Hanya saja harus sedikit lebih ekstra waspada dan cermat. Jalan di depan kami hanya dua lajur dan digunakan untuk dua arah. Kendaraan dari arah berlawanan terkadang tak terlihat saat melewati belokan. Apalagi saat malam hari begini.

Jalan Pintas Belum Tentu Pantas

Tak seorang pun dari kami yang pernah melewati jalan Sukorejo – Parakan. Disini insting penjelajah saya diuji. GPS dan papan hijau yang bergelantungan di atas jalan berisikan petunjuk arah(sebut saja plang) menjadi kawan setia pemberi arah. Sejauh ini GPS tak banyak berarti, karena jalannya hanya lurus lurus dan sedikit berkelok tanpa ada persimpangan. Hingga sebuah papan petunjuk arah muncul. Rupanya ada sebuah pertigaan di depan kami. Petunjuk yang terbaca, jika lurus akan mengarah ke Parakan dan Temanggung kota. Belok kanan merupakan jalan alternatif ke Parakan. GPS memberi petunjuk untuk tetap lurus. Namun setelah cek di peta, lewat jalan altenatif sepertinya lebih cepat sampai Parakan. Sedikit mengabaikan nasihat GPS, maka kami memutuskan belok kanan. Jalan alternatif tadi berujung pada sebuah perempatan. Plang hijau sebelum perempatan itu memberi petunjuk jika lurus akan mengarah ke Parakan dan Temangung. Jika belok kiri kami akan kembali lagi ke Sukorejo. Sedangkan belok kanan menuju ke Dieng. Lah, kok ada jalan yang langsung ke Dieng tanpa perlu melewati Parakan. Mungkinkah ini juga jalan alternatif? Terlena dengan jalan alternatif pertama yang mudah dilalui dan lancar tanpa ada hambatan, kami kembali berinisiatif mengambil jalan ke kanan lewat jalur alternatif. Langsung menuju ke Dieng. Entah karena lelah selalu kami abaikan, atau putus asa mencoba menasihati kami, petunjuk di GPS mengikuti rute yang kami pilih sendiri. Alih-alih untuk mempersingkat dan mempermudah perjalanan, jalan pintas yang kami ambil malah membawa kami ke rute yang tak wajar. Semakin jauh kami menginggalkan perempatan tadi, jalanan semakin sepi. Lampu penerangan jalan pun tak ada. Gelap gulita, hanya sorot lampu mobil yang memberikan secercah cahaya. Itu pun hanya ada lampu dari mobil kami sendiri. Jalan juga semakin menanjak tajam. Tikungan demi tikungan terus menyambut kami. Sunyi. Terpikir kembali, apakah ini jalan yang benar? Cek peta GPS, rute ini sudah benar mengarah ke Dieng. Tak ada peringatan kalau kami salah jalan. Tapi kenapa jalannya begini. Gelap dan sepi. Apakah GPS sengaja mengerjai kami setelah apa yang kami perbuat padanya? Membenarkan jalan yang sebenarnya tidak benar.

Ketakutan mulai mendera. Cemas kalau sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Samar-samar kabut mulai terlihat. Sepertinya udara di luar mulai dingin. Lampu mobil kian tak mampu menembus kabut yang semakin tebal. Jarak pandang berkurang. Bayangan pepohonan di kanan kiri jalan sedikit memberi petunjuk bahwa kami sedang melewati tengah hutan. Hutan pohon Pinus kah atau Cemara, ah tak begitu jelas. Sebuah mobil sedan tua terparkir di pinggir jalan dengan tanpa roda depan. Sepertinya mobil itu mengalami masalah saat mencoba menaklukkan tanjakan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitar mobil itu. Mungkin ditinggalkan sang pemilik yang sudah putus asa mencoba menyelesaikan masalah pada mobilnya.

Hoihoi, serius amat bacanya. Ini bukan cerita fiksi horor. Cuma catper suka-suka dengan sedikit bumbu dramatisir. Slow ae, jangan tegang.

Sepeda motor matic yang tadi sempat menyalip mobil kami berhenti dan menurunkan seorang yang duduk di jok belakang. Sepertinya sepeda motor itu tidak kuat menaiki tanjakan dengan beban dua orang. Menggambarkan betapa tajamnya tanjakan yang kami lalui. Untung lah mobil yang kami pakai sudah teruji dan kami uji sendiri ketangguhannya.

Mengingat jalan yang dari tadi terus menanjak, sepertinya sisi kanan dan kiri jalan merupakan jurang. Saya pun jadi waswas cemas saat kawan saya mengemudikan mobil melewati belokan yang menanjak. Takut kalau keluar lintasan balap. Kecemasan seperti itu bisa sedikit diabaikan karena kawan saya yang satu ini supir handal yang bisa diandalkan namun belum teruji apalagi sertifikasi. Hanya SIM A yang membuatnya bisa memperoleh predikat handal dari saya.
Ingin kembali sudah terlalu jauh, lanjut pun juga tak jelas ujungnya. Tapi GPS memberi petunjuk untuk tetap lurus (sepertinya dia masih marah). Kemana kah jalan mencekam ini akan berujung.

Kerlap-kerlip cahaya dari kejauhan memberi asa baru. Kami sudah dekat dengan pemukiman penduduk. Sayup-sayup terdengar suara orang-orang yang sedang membaca Tahlil. Oh ya, ini malam Jumat.

Lega rasanya ketika kanan kiri jalan yang kami lalui sudah berubah dari hutan menjadi perumahan. Kami berhenti sejenak untuk bertanya kepada penduduk sekitar. Guna memastikan apakah jalan yang kami tempuh ini merupakan jalan yang benar. Brrrrr, udara di luar jauh lebih dingin dari AC mobil yang sengaja kami nyalakan agar kaca mobil tidak mengembun.

     “Nderek tanglet, Pak Lek. Nopo niki dalan ingkang leres menawi kula ajeng ten Dieng?”

“Oh, nggeh Mas. Leres, lewat mriki saget”

     “Nanging kok sepi ngeten”

“Niki jalur alternatif, biasa ne wong-wong muter lewat Parakan rumiyin. Yen lewat mriki langsung. Nanging yo ngoten iku, dalan e nanjak tur sepi, Mas. Yen lurus terus mangkih tembus wonten Jalan Raya Dieng. Lajeng belok kanan.”

     “Oh ngoten. Matur nuwun, pak lek”

“Mas, kulo angsal nunut numpang mboten. Kulo ajeng wangsul nanging mpun mboten wonten tumpangan.”

Kami setujui permintaan Pak Lek itu. Beliau kami bantu antar pulang, sementara kami dapat seorang penunjuk arah. Kami melanjutkan perjalanan dengan tambahan satu orang lagi.

Tiba-tiba di tengah jalan bapak itu menghilang secara misterius. Seketika kami kaget. Padahal sebelumnya ia duduk di kursi tengah. Entah bagaimana ia tiba-tiba menghilang. Mahluk halus kah ia? yang ini ngaco, hiraukan saja.

Tak begitu lama beliau meminta turun di depan sebuah gerbang. Katanya disana rumahnya, di komplek perumahan. Dilihat dari gerbangnya malah lebih seperti sebuah pabrik. Mungkin rumahnya di samping pabrik itu, pabrik teh yang belakangan saya ketahui merupakan pabrik pengolahan teh Perkebunan Teh Tambi.
Sementara kami melanjutkan perjalanan yang belum diketahui kapan sampainya, beliau melangkah pergi tanpa meninggalkan nama(saya lupa bertanya).

Setelah tersesat akhirnya kami kembali ke jalan yang benar, Jalan Raya Dieng. Dari sini hanya perlu mengikuti jalan hingga ujung jalan. Kondisi jalan sama gelapnya dengan jalan sesat tadi. Hanya saja tanpa tanjakan yang menyiksa mesin dan sedikit berkelok. Entah berapa menit kami melintasi jalan Dieng hingga akhirnya sampai di pertigaan yang ramai dan terang benderang.

Dieng, akhirnya.

Suasana malam di pertigaan Dieng
Suasana malam di pertigaan Dieng

Rintik hujan menyambut kedatangan kami. Lagi lagi, brrrrrr dingin. Rencana awal kami akan langsung ke Bukit Sikunir, minimal Desa Sembungan, tetapi karena hari sudah larut, kami memutuskan mencari penginapan di sekitar situ saja. Lanjut pun tak tahu jalan. Lebih baik berlindung dari dinginnya udara Dieng serta melepas lelah perjalanan sembari menanti fajar datang. Berharap esok pagi matahari terbit dengan cerahnya di Bukit Sikunir. Harapan yang sepertinya sulit terpenuhi kalau melihat musim.

Keesokan harinya…

Sebelum Subuh saya bangun untuk mengecek kondisi langit. Hah, masih sama seperti semalam, mendung. Akan jadi usaha yang sia-sia kalau tetap memaksakan berburu sunrise. Rasanya cuaca tidak akan secepat itu berubah pikiran. Ia sudah memutuskan pagi ini langit akan tertutup mendung. Tak akan ada sunrise di Dieng pagi ini. Pilihan terbaik, menghangatkan diri di sofa penginapan sambil meneguk secangkir kopi panas, cerita masih panjang.

Pukul 05.30 WIB, seharusnya matahari sudah terbit dan langit sudah cukup terang. Waktunya menjelajah. It’s time to narcis.

Tugu Dieng menjadi favorit untuk berfoto ria
Tugu Dieng menjadi favorit untuk berfoto ria

Masih penasaran dengan Sikunir, kami pun menuju kesana. Bukan untuk sunrise melainkan ke Telaga Cebong. Telaga di bawah Bukit Sikunir, Desa Sembungan. Berangkat….tancap gas Pir! Di langit tertutup mendung, di darat tertutup kabut. Lagi-lagi harus menembus tebalnya kabut Dieng.

Setengah jam kemudian…

Gapura Selamat Datang Desa Sembungan, Dieng
Gapura Selamat Datang Desa Sembungan, Dieng

Sampailah kita di depan sebuah gapura bertuliskan “Welcome to Sembungan Village, Desa Tertinggi di Pulau Jawa”. Namun sejauh mata memandang, tak tampak adanya perkampungan penduduk Desa Sembungan. Kemanakah gerangan desa tertinggi di pulau Jawa ini? Rupanya kabut nan tebal menyembunyikan keberadaan desa ini. Kabut telah menelannya. Jauh di mata tak terlihat pula. Datangi saja.

Beberapa penduduk Desa Sembungan terlihat berkerumun di depan sebuah lapak dagangan
Beberapa penduduk Desa Sembungan terlihat berkerumun di depan sebuah lapak dagangan

Nah, itu dia Desa Sembungan beserta penduduknya yang sudah beradaptasi dengan suhu dingin pegunungan. Pakaian tebal dan jakettak pernah lupa meeka kenakan. Beberapa bangunan mempunyai papan nama bertuliskan “Homestay”. Sepertinya itu rumah penduduk yang disulap menjadi penginapan. Banyaknya wisatawan yang berkunjung kesana membawa peluang baru untuk menambah pundi-pundi penghasilan. Dan secara langsung juga sangat membantu wisatawan seperti kami ini.

Dimana ada kendaraan bermotor, disitu macet selalu mengintai
Stack, traffic jam Jakarta terbawa hingga Desa Sembungan.

Belum juga sampai di Telaga, perjalanan kami terhenti. Mobil kami tak bisa maju lebih jauh. Jalan yang hanya satu lajur tak memungkinkan dua mobil dari arah yang berlawanan berjalan secara bersamaan. Kami yang ingin menuju Telaga terhambat oleh mereka yang menyudahi kunjungannya dari Telaga(mereka yang telah menyerah menunggu golden sunrise di Bukit Sikunir yang tak kunjung datang). Tak menyerah, saya coba mengatur lalu lintas agar dua kepentingan yang saling berseberangan ini bisa mendapatkan solusi terbaik. Sama-sama bisa jalan. Namun apalah daya, tak ada cukup ruang untuk berbagi jalan. Sing waras ngalah, kami meminggirkan mobil dan mempersilakan mereka lewat. Tak mau kembali terjebak bentrokan mobil dengan mobil, akhirnya kami memutuskan untuk putar balik saja, hah. Padahal sedikit lagi sampai tujuan. Untunglah di desa Sembungan ada obat mujarab mengobati rasa kecewa. Sarapan Mie Ongklok. Katanya ini merupakan makanan khas daerah Wonosobo dan sekitarnya(termasuk Dieng). Bersamaan dengan perut yang sudah kenyang, hilanglah sudah sesal yang sempat menyesaki dada.

Telaga Cebong tak sampai, Telaga Warna pun jadi. Kalau objek wisata andalan Dieng yang satu ini sangat mudah dijangkau. Dan merupakan salah satu objek wisata utama Dieng.

Lanjut ke Telaga Warna…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s